Home » iMe » Penilaian Objektif (PO)

Archives

October 2017
S M T W T F S
« Apr    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Penilaian Objektif (PO)

is (12)

Memberikan penilaian terhadap seseorang (murid, mahasiswa) oleh pendidik (guru, dosen) harus senantiasa mengacu pada objektivitas, atau dengan kata lain penilaian harus objektif jauh dari sifat-sifat yang mengandung unsur subjektif. Pertanyaan kini muncul apa kriteria penilaian objektif dan mengapa harus objektif?

Sebelum menjawab dua pertanyaan itu ada baiknya terlebih dahulu memahami arti dari penilaian itu sendiri, menilai dan penilaian tidak akan terpisahkan dari adanya hasil dan prestasi, kompetensi dan indikator lainnya yang dijadikan tolok ukur (standar) tertentu dalam menentukan keberhasilan.

Penilaian dikatakan objektif jika senantiasa memiliki kejelasan tujuan yang ingin dicapai, penilaian objektif akan selalu mengacu pada aturan dan keteraturan, penilaian objektif harus berpangkal pada adanya keinginan untuk menciptakan/meningkatkan prestasi dan penilaian objektif tentunya harus dapat menciptakan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan (harmonisasi)

Dilihat dari sudut pandang sebagai seorang pendidik (guru, dosen) hal pertama jelas dalam melakukan penilaian harus ada satu tujuan (goal) yang akan dicapai artinya seorang pendidik harus memiliki sense of goal . Pendidik harus sudah tahu tujuan penilaian itu adalah mengukur kemampuan atau kompetensi peserta didik setelah dilaksanakannya proses pembelajaran. Hal kedua dalam melakukan penilaian, pendidik dituntut harus menyadari adanya sense of regulation (keteraturan), sebagai contoh adanya aturan memberikan dan membuat soal (dalam bentuk pilihan ganda dan atau essay misalnya) ada batasan waktu penyelesaian tugas dan lainnya yang harus ditepati. Proses penilaian yang objektif juga harus mampu membuat setiap peserta didik (murid, mahasiswa) untuk berprestasi dan menemukan potensi unik yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik. Hal lain yang ketiga adalah seorang pendidik dituntut memiliki sense of achievement,  sebagai contoh ketika peserta didiknya mengalami masalah dalam pembelajarannya, maka seorang pendidik harus memiliki kemauan dan kemampuan melakukan Achievement  Motivation Training (AMT) memberikan motivasi dan semangat kepada mereka. Ingatlah tidak ada peserta didik (murid, mahasiswa) yang bodoh, yang ada adalah peserta didik yang malas. Kemalasan hanya membuahkan hasil (nilai) yang rendah. Dan yang terakhir pendidik harus memiliki sense of harmony yang akan menciptakan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan. Ketika telah ada standar penilaian yang baku, maka peserta didik akan merasakan keadilan dari nilai yang didapatkannya, dengan sistem penilaian yang berlandaskan pada obejektivitas akan sama-sama menguntungkan kedua belah pihak, bahwa pendidik bisa melihat kemampuan setiap peserta didiknya, dan peserta didikpun merasakan kemampuan apa yang telah dikuasainya.

Jadi mengapa harus Penilaian Objektif? artinya yang menilai dan yang dinilai akan mengerti dan memahami bahwa penilaian objektif mempunyai tujuan yang jelas antara lain mengetahui kemampuan, keterampilan, kompetensi, prestasi dll. yang menilai dan yang dinilai memiliki kesamaan dan kesatuan dalam pemikiran bahwa obejektivitas penilaian itu senantiasa berlandaskan pada aturan yang baku (standar) bukan keluar dari aturan pribadi (pendidik) dan aturan itu akan selalu mengikuti keteraturan berkelanjutan, dengan penilaian objektif pendidik dan peserta didik yang dinilai dapat merasakan bahwa segala daya upaya harus dilakukan untuk mencapai prestasi tertentu bukan hanya berlandaskan “belas kasihan” semata atau mungkin ada personal interest lainnya yang melatarbelakangi penilaian itu sehingga unsur objektivitasnya menjadi kabur, selanjutnya penilaian objektif akan menciptakan harmonisasi antara pendidik dan peserta didik yang dinilai (tidak akan muncul unsur kecurigaan terhadap pendidik/penilai,  semua sudah jelas, terukur, teratur dengan segala aturan yang sudah diketahui oleh semua yang berkepentingan).

Adanya kesadaran akan tujuan, aturan dan keteraturan, prestasi dan harmonisasi empat hal ini  tentunya harus sampai juga kepada pemikiran peserta didik secara utuh. Adalah suatu keniscayaan jika pendidik mampu melakukan transfer of knowledge keempat unsur ini sehingga menyatu dalam pemikiran pendidik dan anak didik, niscaya akan muncul rasa percaya (TRUST) bahwa pendidik (guru, dosen) telah memberikan penilaian secara objektif. Peserta didik tidak akan merasa lagi “diperlakukan” tidak adil atau dinilai berdasarkan like and dislike  semata ………………………….SELAMAT MENILAI (Objektif)


1 Comment

Leave a comment